Kesadaran Kerja dalam Islam

Kesadaran Kerja dalam Islam

Siapa yang tidak mau rizki? Suatu pertanyaan yang sangat kontradiktif sekali. Sebenarnya, mengapa kita mau bekerja, berusaha, dalam mencapai sesuatu merupakan suatu akses untuk kita mendapatkan rizki. Lantas, apakah dengan berpaku tangan kita dapat menjadi orang yang sukses dengan gelar-gelar tertentu yang kita semua inginkan?

 
 
 
 
 
Kesadaran Kerja dalam Islam
Kebanyakan persepsi masyarakat di era globalisasi salah mendefinisikan makna kesadaran kerja. "Yang terpenting kebutuhan terenuhi, tidak miskin, tidak dicemooh sebagai pengangguran" dan banyak alasan lagi. Sementara Islam tidak mengajarkan bekerja di luar batas kemampuan kita. Atau mungkin hanya sekedar angan-angan kosong yang kita hanya bisa membayangkan apa yang kita inginkan tanpa tindakan lebih lanjut.
 
Dalam dunia Islam telah dikenal dengan istilah etos kerja, yakni suatu sikap mental dalam menghayati pekerjaan kita dan bersungguh-sungguh dalam bekerja. Namun, di sini, Islam tidak mengajarkan bekerja sebagai acuan orang yang elit, tidak sekedar mengejar duniawi, atau berbangga-bangga kepada diri dan orang lain sehingga menunjukkan "inilah aku".
 
Lalu, apa sebenarnya makna kesadaran kerja dalam islam? Kesadaran kerja dalam islam berlandaskan semangat tauhid dan tanggung jawab ketuhanan. Lebih mudahnya, kita dalam bekerja harus selalu dilandasi dan diniatkan untuk mencari ridha Allah semata. Sebagaimana dalam Qs. As Shaffat{37}:61



"Untuk kemenangan ini, hendaklah berusaha orang-orang yang berkerja"
 
Tuntutan Islam dalam bekerja
 
Dengan etos kerja yang baik diharapkan seorang profesional muslim dapat membawa manfaat dari apa yang kita
 usahakan bagi diri, keluarga, lingkungan kerja, dan orang-orang baik di dalam maupun di luar lingkungan kerja 
dan keluarganya. Sebagaimana sabda Rosulullah saw, bahwasanya orang yang paling baik adalah orang yang berguna 
bagi orang lain (HR.Thabrani)

Kemudian, di dalam bekerja itulah kita di tuntut untuk mencari rizki yang baik. Baik di sini adalah sesuatu yang
tidak melanggar syariat Islam tentunya (halal dan haram). Dan juga tidak lupa memperhatikan etika, norma-norma 
dan tata cara yang ada di masyarakat.

Tidak hanya itu, kita juga di tuntut oleh Allah berbuat dan bekerja menurut kedudukan. Nabi Muhammad saw sendiri 
juga berbuat dan bekerja dalam menyampaikan risalah dan wahyu Allah.
Sebagaimana tercantum dalam QS. Az-Zumar {39}:39


"Katakanlah (Muhammad), "Wahai kaumku! Berbuatlah menurut kedudukanmu, aku pun berbuat
(demikian). Kelak kamu akan mengetahui."
Berbuat menurut kedudukan di sini bermakna kita dalam bekerja harus bersungguh-sungguh.Tidak boleh ragu dalam 
melangkah. Seperti peribahasa "Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui".
Bahkan jika kita mampu melakukan berbagai pekerjaan dalam kedudukan kita asal kita mampu untuk menjalankannya.
 
Sudahkah kita berbuat demikian? Ataukah kita termasuk orang yang lalai?

Wallahu a'lam bish showab.****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Sifat, Sikap dan Karakter

Makna dan Hakikat "Hidayah-Taufiq"

Bahasan Qolbu